Have you ever felt like you wanted to die?
You want to be dead because nobody wants you. Nobody cares if you're around or not.
They'll feel nothing.
Because you're nothing but a mess.
A failure.
A trash.
So all they have to do is just dump you. Abandon you. Then they burn you.
Till your last pieces.
You can be whatever you wanna be as long as you believe in your dream and fight for it! ^^
Selasa, 01 Maret 2016
Jumat, 10 Oktober 2014
INTERLUDE : SELALU ADA JEDA UNTUK BAHAGIA
Hari ini gue baru aja kelar baca buku ini...
Interlude ini karya keenam dari Windry Ramadhina, sekaligus buku pertamanya yang gue baca. Buku ini gue dapat dari hasil pinjaman Mbak Inoer, editor di kantor tempat gue magang. Lumayan buat ngisi waktu di kantor kalo pas nggak ada kerjaan. Hehe...
Tokoh sentral dalam novel setebal 371 halaman ini adalah Hanna dan Kai. Mereka memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, namun ada persamaan di antara mereka. Mereka sama-sama memiliki kepahitan hidup yang harus dihadapi.
Hanna adalah seorang mahasiswi jurnalisme. Ringkih, berhati terlalu lembut, dan mudah menangis. Karenanya, Kai selalu meledeknya cengeng. Gadis ini memiliki masa lalu kelam yang membuatnya trauma. Karena sesuatu yang terjadi di masa lalunya ini, dia harus menjalani terapi selama kurun waktu satu tahun. Dan karena masa lalunya pula, Hanna sering dijadikan bahan gunjingan oleh teman-teman kampusnya.
Sementara Kai adalah seorang pemuda yang bisa dikatakan anti kemapanan. Gemar mabuk, tidak pernah bertahan lama berhubungan dengan perempuan, dan tidak peduli pada bidang akademis yang dia jalani meskipun selama enam semester berturut-turut selalu memperoleh IPK sempurna. Kai merupakan gitaris genius dari Second Day Charm, suatu band beraliran Jazz, yang dimotori oleh Jun. Vokalis dari band ini, Gitta, sempat menjalin hubungan dengan Kai selama beberapa saat.
Lalu bagaimana dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang ini bertemu? Well, mereka bertemu pertama kali di atap apartemen tempat Hanna indekos. Kebetulan, Gitta juga tinggal di gedung yang sama. Karena itu Kai sering berkunjung ke sana entah untuk numpang tidur di apartemen Gitta atau sekedar bermain gitar di atap bangunan delapan lantai itu.
Awalnya, Kai tertarik pada Hanna karena sikap malu-malu kucingnya. Menurut Kai, setiap perempuan itu sama. Mereka pasti akan bersikap malu-malu dan sok jual mahal di depan semua pria, tapi kemudian dengan mudahnya mau untuk diajak ke ranjang. Seperti itu pula penilaian Kai pada Hanna. Padahal dirinya sudah diingatkan Gitta bahwa Hanna sama sekali berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini Kai kencani. Namun Kai tetap saja tidak peduli dan berusaha untuk menaklukkan Hanna.
Hingga kemudian, saat Kai mengetahui kebenaran akan masa lalu Hanna, pemuda ini menyesal setengah mati karena telah memperlakukan Hanna dengan tidak baik. Dia berusaha untuk meminta maaf pada gadis itu dan ingin membuktikan bahwa tidak selamanya dia menjadi laki-laki berengsek.
Well, nggak perlu gue ceritain secara menyeluruh juga kan? Yang jelas, gue suka pake banget sama novel dengan cover cantik ini. Dari sini kita bisa belajar bahwa yang bisa menyembuhkan trauma serta ketakutan-ketakutan dalam diri kita adalah kita sendiri. Bukan orang lain. Gue suka Hanna yang meskipun masih terbayang-bayang akan masa lalunya namun perlahan-lahan dia mau keluar dari sana. Intinya, mau sebesar apapun support dan motivasi orang lain agar kita mau move on dari masa lalu, kalo kitanya sendiri aja nggak mau dan nggak bisa memotivasi diri sendiri ya kita nggak akan bisa beranjak ke mana-mana.
Oh iya, ada satu kutipan yang paling gue suka di buku ini. Kalimat yang diucapkan Miss Lorri, teraphist Hanna.
Masa lalu seperti belenggu, memang. Mengikat. Terlalu mengikat, kadang. Seperti menjadi bagian baru di diri kita. Bagian baru yang membebani. (hal 254)
And last but not least, saat membaca Interlude ini, nggak tau kenapa gue ngebayangin sosok Kai itu kayak JongHyun-nya CNBlue >.<
Dan ngomong-ngomong soal Kai, gue jadi inget sama Ares di Summer Breeze-nya Orizuka. Sama-sama tipe pemuda bengal yang sebenarnya butuh perhatian.
So, intinya buku ini bagus dan worth to read. Tapi hati-hati, kalo perasaan lo mendadak sendu dan galau, jangan salahin gue! :D
Selasa, 07 Oktober 2014
AKHIRNYA DITENGOKIN EMAK
Pagi ini gue terbangun lebih pagi dari biasanya, pukul 5 pagi. Catet ya, terbangun. That means, sebenernya itu belum waktunya gue bangun.
Nah, terus kenapa, Na?
Pertama, gegara mimpi indah gue bertemu dengan Miles Teller terpaksa harus gue sudahi karena dering ponsel gue berhasil mengusir si Mas Miles dari mimpi. Dan kedua, lo tau siapa yang nelepon gue subuh-subuh buta? Dosen Pembimbing Lapangan gue! Jelas kaget banget dong gue. Ini ibu ngapain lagi pagi-pagi bener nelepon? Kangen gue kah? Oh, tapi itu jelas nggak mungkin. Karena itu gue cepat-cepat menepis pikiran kepedean gue.
Terus ngapain dong si Ibu nelepon gue jam segitu? Ternyata oh ternyata... itu karena beliaunya hari ini mau nengokin gue di kantor magang dan minta alamat lengkap kantor berikut ancer-ancernya. Mendengar kabar tersebut, seketika itu juga gue langsung melek. Men, akhirnya gue ditengokin juga...
Yup, kampus gue ini emang paling rajin. Tiap anak magang pasti bakal ditengokin sekali sama dosen pembimbing masing-masing. Padahal anak-anak dari kampus lain yang magang sekantor bareng gue nggak ada tuh acara tengok-tengokan segala. Supersekali ya kampus tercinta gue itu.
Begitu telepon ditutup, langsung deg-degan aja dong gue. Duh, ini kira-kira gue bakal dikepoin tentang apa? Karena itu gue nggak bisa menyambung mimpi buat ketemu sama Miles Teller lagi. Huwaaa...
Si Ibu Pembimbing ini saat awal gue mau magang bilang bahwa beliau akan nengokin kami, anak bimbingannya, pada bulan September. Dan selama bulan itu, udah H2C aja dong gue... Eh, tapi setelah ditungguin dan bulan Septembernya lewat, si Ibu nggak datang-datang juga. Duh, apa si Ibu lupa kalo ada anaknya yang magang di Jogja? Berasa anak tiri yang tersisihkan banget perasaan gue waktu itu. Tapi kemudian ada temen gue yang curhat kalo dosen pembimbing mereka juga belum nengokin. Ah, langsung lega deh. Semoga emang bener beliaunya belum ada waktu.
Sebenernya sih gue nggak terlalu berharap ditengokin juga. Tapi kalo nggak ditengokin, terus form penilaian buat perusahaan untuk menilai gue siapa yang nganterin coba? Masa iya nanti gue kudu balik ke Semarang dulu buat ngambil form-nya sendiri -___-"
Anyway, akhirnya sekitar pukul 9 lebih dikit tadi dosen gue sampai juga di kantor ijo tempat gue magang. Gue sih berlagak sok santai. Padahal jantung gue udah kayak mau meledak aja tadi. Mampus, bentar lagi sesi interogasi nih.
Tapi untungnya sesi interogasinya nggak seserem yang gue bayangin. Pak Pimred di tempat gue magang minta gue untuk ikut duduk bareng mereka. Dan akhirnya dimulailah sesi ngobrol-ngobrol. Nggak lama kok. Paling cuma sekitar setengah jam. Setelah itu, si Ibu pamit karena masih harus nengokin "anaknya" yang lain yang ada di Magelang.
Oh iya, sebelum pamit, si Ibu Pembimbing nggak lupa nyerahin form penilaian buat gue ke Pimred kantor tempat gue magang dan ngasih kayak semacam bingkisan gitu *buat saya mana, Bu?* Dan karena gue magang di kantor penerbit, Pak Pimred pun "mengoleh-olehi" dosen gue dengan setumpuk buku. Ini nggak ada yang mau ngasih gue bingkisan juga?
![]() |
| Dadah, Ibu... Terimakasih sudah menegok mahasiswimu yg unyu.. |
Well, sepulangnya beliau dari sini, gue baru nyadar bahwa minggu depan adalah minggu terakhir gue magang. Ah, akhirnya balik lagi ke kampus. Senangnya,,, *gue nggak pernah merasa sesenang ini buat balik kampus*
Meskipun akhirnya gue kudu berkutat dengan laporan magang, gue seneng karena sebentar lagi gue bakal ketemu temen-temen. Gue kangen bergosip ria, ngerumpi di kelas, dan oh... gue kan punya junior baru. Itu artinya gue bisa ngecengin berondong-berondong cucok... Mhuahaha...
Gue kangen kuliah... Iyah, kangen...
Senin, 06 Oktober 2014
THINGS YOUR ENGLISH BOOKS DON'T TELL YOU
Judul :
Things Your English Books Don’t Tell You
Penulis : @EnglishTips4U
Penerbit :
PandaMedia
Tahun Terbit : 2014
Cetakan :
Kedua
Tebal :
330 hlm
ISBN :
979-780-733-9
Kali ini gue akan coba me-review buku non fiksi yang baru aja selesai gue baca. *Tumben amat lo, Na.*
Jujur aja gue tertarik sama buku ini karena cover-nya yang unyu dengan warna pastel dan font kurusnya. Apalagi buku ini ditulis oleh para admin dari suatu akun di Twitter yang fokus pada pembelajaran bahasa Inggris. Masih jarang banget kan buku-buku non fiksi yang berhubungan dengan bahasa yang disusun oleh para admin dari suatu akun di media sosial. Karena itu gue penasaran sama isi buku ini.
Things Your English Books Don’t Tell You
merupakan sebuah buku pembelajaran bahasa Inggris yang ditulis oleh para admin
dari akun @EnglishTips4U. Dengan mengusung tagline
“jago bahasa Inggris, tepat, cepat, dan nggak pakai ribet” memang cocok
dengan konten yang disajikan dalam buku ini.
Jika buku-buku bahasa Inggris lain berfokus
pada satu tema atau paling banyak tiga tema yang dibahas dalam suatu judul
(misal : conversation, vocabulary, dan
grammar), maka buku ini membahas
hampir keseluruhan tema yang ada dalam bahasa Inggris. Pembelajaran sederhana
mengenai grammar, vocabulary, idioms, hingga pengetahuan
singkat mengenai TOEFL dan IELTS terangkum dalam buku setebal 330 halaman ini.
Selain topik-topik di atas, buku ini juga
membahas mengenai hal-hal yang dalam buku bahasa Inggris lain mungkin belum pernah atau
jarang dibahas seperti kata slang dari Amerika, Inggris, dan Australia, slur words, blending words, abbreviations, hingga
kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sepertinya tidak ada dalam bahasa Inggris
(misalnya sayur asem yang dalam bahasa Inggris dideskripsikan menjadi “clear soup made of tamarind, sweet corns,
peanuts, and other chopped vegetables, with sour and fresh taste”).
Sebagai selingan, buku ini juga menyajikan
topik-topik ringan seperti quotes,
peribahasa, dan pada halaman-halaman akhir terdapat pertanyaan teka-teki yang
jawabannya dapat dilihat di web penulis, http://englishtips4u.com.
Untuk semakin meningkatkan kemampuan bahasa
Inggris pembaca buku ini, terdapat pula latihan soal ringan yang jawabannya pun
dapat diakses di web di atas.
Konten dengan beragam tema yang berhubungan
dengan bahasa Inggris dan disajikan dengan bahasa ringan serta khas anak muda merupakan
kelebihan dari buku ini. Cover-nya yang menarik pun tentu menjadi
nilai tambah. Selain itu, @EnglishTips4U telah memiliki follower di atas 50K yang tentunya menjadi target pembaca utama sehingga
tidak heran dalam waktu belum ada satu tahun saja buku ini telah memasuki
cetakan kedua.
Selasa, 30 September 2014
THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS
Hari Sabtu kemarin gegara gak ada kerjaan di kos, akhirnya gue puas-puasin buat nonton film-film yang udah sempat gue minta dari laptopnya mbak editor dan yang gue download di kantor *terimakasih WiFi kantor yang kebut banget*. Salah satunya adalah film ini...
Film yang dirilis tahun 2008 ini mengambil setting di Jerman pada masa pemerintahan Hitler. Di awali dengan adegan Bruno (Asa Butterfield), si bocah berusia 8 tahun, yang baru pulang sekolah bersama teman-temannya. Bruno kaget karena begitu tiba di rumah, orang-orang yang berada di rumahnya tampak sibuk mengemasi barang. Dari ibu Bruno, Elsa (Vera Farmiga), dia tahu bahwa keluarga mereka akan meninggalkan Berlin karena ayahnya, Ralf (David Thewlis), yang seorang tentara Nazi dipromosikan menjadi Komandan.
Bruno sempat merasa bosan ketika berada di rumah barunya karena oleh kedua orang tuanya dia tidak diperbolehkan untuk keluar ke mana pun. Tambahan pula, dia dan kakaknya, Gretel (Amber Beattie) harus menjalani homeschooling. Bruno yang sangat menyukai petualangan dan bercita-cita menjadi explorer tentu saja merasa terkungkung.
Hingga suatu hari, ketika dia berada di gudang belakang rumahnya bersama Pavel, seorang pekerja keturunan Yahudi yang bekerja di rumahnya, tengah mencari ban bekas untuk dijadikan ayunan, Bruno melihat ada satu jendela kecil yang dapat digunakannya untuk melarikan diri. Jadilah setiap orang tuanya tidak berada di rumah, Bruno nekat pergi dari rumah untuk mengunjungi suatu tempat yang dia yakini sebagai perkebunan yang berada di belakang rumahnya.
Di sana dia bertemu dengan Shmuel (Jack Scanlon), seorang bocah keturunan Yahudi seusianya. Dari sini persahabatan di antara mereka terjalin. Setiap mengunjungi Shmuel, Bruno tidak lupa membawakannya makanan dan juga mainan agar mereka dapat bermain bersama. meskipun harus dibatasi dengan kawat-kawat listrik bertegangan tinggi, Bruno tetap datang menemui sahabatnya.
Dari kakaknya, Bruno kemudian tahu bahwa tempat di mana Shmuel berada merupakan suatu kamp untuk mengurung orang-orang keturunan Yahudi. Tahu sendiri dong gimana Hitler benci banget sama orang Yahudi ini. Karenanya Bruno sempat takut untuk berteman dengan Shmuel. Namun kemudian, tetap saja mereka berteman karena merasa saling menyayangi dan membutuhkan.
Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan John Boyne ini sukses bikin gue nangis kejer. Apalagi begitu tahu ending-nya. Nggak ikhlas aja karena nasib Bruno dan Shmuel harus berakhir seperti itu *no spoiler*.
![]() |
| Ini scene yang bikin gue mewek |
Film ini mengajarkan pada kita bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi kita untuk berteman dengan siapapun. Film ini juga bertabur kutipan-kutipan superkeren. Salah satu yang paling gue suka adalah dialog yang diucapkan Bruno ketika bersama Shmuel, "it's funny how grown-ups can't make their minds up about what they want to do."
Meskipun dibuat mewek sampe sesenggukan, tapi gue nggak nyesel nontonnya. Kepolosan Bruno dan Shmuel diperankan secara apik oleh Asa Butterfield dan Jack Scanlon. Ah, seandainya saja di dunia ini nggak ada perang...
Oh iya, setelah nonton filmnya, gue jadi pengin baca bukunya juga. Jadi mari kita berburu e-book-nya! :D
Jumat, 19 September 2014
A MONTH, A BOOK PROJECT
So, this is my project.
"Sebulan cuma satu buku, Na?"
I know you're gonna ask me about that. Sebenarnya ini jadi salah satu cara gue untuk membiasakan diri membaca lagi mengingat sejak masuk kuliah, kebiasaan membaca gue jadi berangsur-angsur menurun. Dengan jadwal kuliah yang padat dan tugas yang menumpuk, rasanya tiap kali bisa punya waktu luang untuk membaca itu udah istimewa sekali. *Yah, salahkan kampus gue!*
Selama tiga tahun being a college girl, gue emang masih bisa menyisihkan duit buat jajan buku. Tapi nggak tiap bulan bisa beli kayak waktu SMA juga. Belajar prihatin, Bos! Namanya juga anak kos. Tapi yang paling menyedihkan sebenarnya bukan karena gue nggak bebas jajan buku lagi, namun lebih karena waktu membaca gue juga ikut berkurang dengan disibukkannya gue sama kegiatan kuliah. *Sok sibuk lo, Na!*
The worst point is, meskipun gue masih bisa menyalurkan hasrat gue buat beli buku, tapi buku-buku yang gue beli kemudian cuma gue tumpuk aja gitu di kamar kos. Beberapa ada yang sempat gue baca sampe selesai. But mostly, gue cuma baca beberapa bab awal kemudian end up mangkrak gitu aja di pojokan kamar. *I know I'm that pathetic*
Menyadari bahwa perlahan-lahan gue mulai memurtadkan diri dari label book worm, akhirnya di tahun 2014 ini gue bikin projek buat diri gue pribadi untuk membiasakan diri membaca lagi. So far, gue bisa lakuin. Meski otak gue dijejelin sama bejibun tugas dan materi kuliah, at least I still have time to read. And you know, bisa kembali nemuin waktu senggang untuk membaca itu sesuatu sekali!
Kalo projek ini berhasil, tahun depan gue harus memaksa diri gue untuk membaca lebih banyak buku. Meskipun semester ini gue harus berhadapan sama skripsi *God, can I just skip it?*, gue berharap masih punya waktu luang untuk membaca. Itung-itung me-refresh otak dengan cara yang mudah dan murah... :)
Let's read, guys! Karena membaca itu keren!
Rabu, 10 September 2014
Mahasiswa Tingkat Tua
Well, akhirnya gue masuk semester tujuh juga. Rasanya waktu cepat banget berlalu. Padahal kayaknya baru kemarin gue dan teman-teman seangkatan ngerasain yang namanya OSPEK dengan tugas bejibun, dibentak-bentak senior sampe muncrat, berangkat pagi dan masih harus nyari barang ini itu sampe malam. Kampret! Tapi sekarang gue udah semester tujuh aja gitu lho. Udah jadi angkatan tua aja gitu lho. Dan harus siap-siap dibikin pusing sama perkara skripsi. Aaaaakk... Gue belum siap!
Bicara soal skripsi, gue aja masih bingung ntar mau ngajuin topik dan judul apa ke Dosen Pembimbing. Belum ada ide sama sekali. Gue beneran berharap cepat dapat wangsit biar cepet pula ngerjain skripsinya. Tapi... tentunya kita semua tau dong cepat-lambatnya penyusunan skripsi bukan cuma ditentukan oleh rajin-enggaknya kita. Tapi juga faktor dosen!
Misalkan kita udah rajin dan serius banget ngerjain skripsi sampe-sampe cuma ngedekem di kamar aja selama kurun waktu itu buat ngerjain skripsi, tapi si Dosen Pembimbing ini selalu punya seribu alasan untuk nggak menyetujui tulisan kita. Minta disantet gak sih itu dosen?! Kenapa selalu aja ada dosen yang doyan menghambat kelulusan mahasiswanya? Gue heran, apa jangan-jangan si dosen ini terlalu sayang sama mahasiswanya sehingga nggak mau kalo mahasiswanya pergi meninggalkan kampus? Padahal harusnya kalo emang sayang bantulah si mahasiswa biar cepat kelar kuliahnya, bukan malah menghambat. emangnya nggak bosen dirongrong terus sama mahasiswanya buat bimbingan tiap hari?
Gue sih berharap semoga gue dapat jatah dosen pembimbing yang nggak ribet dan memudahkan jalan gue untuk meraih gelar SE. Dan gue juga berharap saat sidang skripsi maupun kompre nanti dapat penguji yang nggak doyan nanya macem-macem dan nggak pelit nilai. Gue beneran udah bosen di kampus dan pengen cepet-cepet lulus. Jadi ya doakan aja ya segalanya berjalan lancar.
Untuk sekarang sih gue masih kudu nyelesaiin masa magang gue yang kurang sebulan dan nyusun laporannya. Maaakk.. Otak gue rasanya penuh banget. Laporan magang, belum lagi ujiannya, skripsi, dan masih ada 3 makul yang kudu gue jalanin pula. Great!
Tapi bukan K namanya kalo gini aja udah ngeper. Pokonya gue kudu semangat! Ya, semangat, K! Gue pasti bisa ngelewatin semuanya. Yah asal ga bikin gue pengin jambak-jambak rambut aja nantinya. Wish me luck ya, guys! ^^
Langganan:
Postingan (Atom)





