Hari Sabtu kemarin gegara gak ada kerjaan di kos, akhirnya gue puas-puasin buat nonton film-film yang udah sempat gue minta dari laptopnya mbak editor dan yang gue download di kantor *terimakasih WiFi kantor yang kebut banget*. Salah satunya adalah film ini...
Film yang dirilis tahun 2008 ini mengambil setting di Jerman pada masa pemerintahan Hitler. Di awali dengan adegan Bruno (Asa Butterfield), si bocah berusia 8 tahun, yang baru pulang sekolah bersama teman-temannya. Bruno kaget karena begitu tiba di rumah, orang-orang yang berada di rumahnya tampak sibuk mengemasi barang. Dari ibu Bruno, Elsa (Vera Farmiga), dia tahu bahwa keluarga mereka akan meninggalkan Berlin karena ayahnya, Ralf (David Thewlis), yang seorang tentara Nazi dipromosikan menjadi Komandan.
Bruno sempat merasa bosan ketika berada di rumah barunya karena oleh kedua orang tuanya dia tidak diperbolehkan untuk keluar ke mana pun. Tambahan pula, dia dan kakaknya, Gretel (Amber Beattie) harus menjalani homeschooling. Bruno yang sangat menyukai petualangan dan bercita-cita menjadi explorer tentu saja merasa terkungkung.
Hingga suatu hari, ketika dia berada di gudang belakang rumahnya bersama Pavel, seorang pekerja keturunan Yahudi yang bekerja di rumahnya, tengah mencari ban bekas untuk dijadikan ayunan, Bruno melihat ada satu jendela kecil yang dapat digunakannya untuk melarikan diri. Jadilah setiap orang tuanya tidak berada di rumah, Bruno nekat pergi dari rumah untuk mengunjungi suatu tempat yang dia yakini sebagai perkebunan yang berada di belakang rumahnya.
Di sana dia bertemu dengan Shmuel (Jack Scanlon), seorang bocah keturunan Yahudi seusianya. Dari sini persahabatan di antara mereka terjalin. Setiap mengunjungi Shmuel, Bruno tidak lupa membawakannya makanan dan juga mainan agar mereka dapat bermain bersama. meskipun harus dibatasi dengan kawat-kawat listrik bertegangan tinggi, Bruno tetap datang menemui sahabatnya.
Dari kakaknya, Bruno kemudian tahu bahwa tempat di mana Shmuel berada merupakan suatu kamp untuk mengurung orang-orang keturunan Yahudi. Tahu sendiri dong gimana Hitler benci banget sama orang Yahudi ini. Karenanya Bruno sempat takut untuk berteman dengan Shmuel. Namun kemudian, tetap saja mereka berteman karena merasa saling menyayangi dan membutuhkan.
Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan John Boyne ini sukses bikin gue nangis kejer. Apalagi begitu tahu ending-nya. Nggak ikhlas aja karena nasib Bruno dan Shmuel harus berakhir seperti itu *no spoiler*.
![]() |
| Ini scene yang bikin gue mewek |
Film ini mengajarkan pada kita bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi kita untuk berteman dengan siapapun. Film ini juga bertabur kutipan-kutipan superkeren. Salah satu yang paling gue suka adalah dialog yang diucapkan Bruno ketika bersama Shmuel, "it's funny how grown-ups can't make their minds up about what they want to do."
Meskipun dibuat mewek sampe sesenggukan, tapi gue nggak nyesel nontonnya. Kepolosan Bruno dan Shmuel diperankan secara apik oleh Asa Butterfield dan Jack Scanlon. Ah, seandainya saja di dunia ini nggak ada perang...
Oh iya, setelah nonton filmnya, gue jadi pengin baca bukunya juga. Jadi mari kita berburu e-book-nya! :D



Tidak ada komentar:
Posting Komentar