Selasa, 30 September 2014

THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS

Hari Sabtu kemarin gegara gak ada kerjaan di kos, akhirnya gue puas-puasin buat nonton film-film yang udah sempat gue minta dari laptopnya mbak editor dan yang gue download di kantor *terimakasih WiFi kantor yang kebut banget*. Salah satunya adalah film ini...




Film yang dirilis tahun 2008 ini mengambil setting di Jerman pada masa pemerintahan Hitler. Di awali dengan adegan Bruno (Asa Butterfield), si bocah berusia 8 tahun, yang baru pulang sekolah bersama teman-temannya. Bruno kaget karena begitu tiba di rumah, orang-orang yang berada di rumahnya tampak sibuk mengemasi barang. Dari ibu Bruno, Elsa (Vera Farmiga), dia tahu bahwa keluarga mereka akan meninggalkan Berlin karena ayahnya, Ralf (David Thewlis), yang seorang tentara Nazi dipromosikan menjadi Komandan.

Bruno sempat merasa bosan ketika berada di rumah barunya karena oleh kedua orang tuanya dia tidak diperbolehkan untuk keluar ke mana pun. Tambahan pula, dia dan kakaknya, Gretel (Amber Beattie) harus menjalani homeschooling. Bruno yang sangat menyukai petualangan dan bercita-cita menjadi explorer tentu saja merasa terkungkung.

Hingga suatu hari, ketika dia berada di gudang belakang rumahnya bersama Pavel, seorang pekerja keturunan Yahudi yang bekerja di rumahnya, tengah mencari ban bekas untuk dijadikan ayunan, Bruno melihat ada satu jendela kecil yang dapat digunakannya untuk melarikan diri. Jadilah setiap orang tuanya tidak berada di rumah, Bruno nekat pergi dari rumah untuk mengunjungi suatu tempat yang dia yakini sebagai perkebunan yang berada di belakang rumahnya.

Di sana dia bertemu dengan Shmuel (Jack Scanlon), seorang bocah keturunan Yahudi seusianya. Dari sini persahabatan di antara mereka terjalin. Setiap mengunjungi Shmuel, Bruno tidak lupa membawakannya makanan dan juga mainan agar mereka dapat bermain bersama. meskipun harus dibatasi dengan kawat-kawat listrik bertegangan tinggi, Bruno tetap datang menemui sahabatnya.


Dari kakaknya, Bruno kemudian tahu bahwa tempat di mana Shmuel berada merupakan suatu kamp untuk mengurung orang-orang keturunan Yahudi.  Tahu sendiri dong gimana Hitler benci banget sama orang Yahudi ini. Karenanya Bruno sempat takut untuk berteman dengan Shmuel. Namun kemudian, tetap saja mereka berteman karena merasa saling menyayangi dan membutuhkan.

Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan John Boyne ini sukses bikin gue nangis kejer. Apalagi begitu tahu ending-nya. Nggak ikhlas aja karena nasib Bruno dan Shmuel harus berakhir seperti itu *no spoiler*.

Ini scene yang bikin gue mewek
Film ini mengajarkan pada kita bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi kita untuk berteman dengan siapapun. Film ini juga bertabur kutipan-kutipan superkeren. Salah satu yang paling gue suka adalah dialog yang diucapkan Bruno ketika bersama Shmuel, "it's funny how grown-ups can't make their minds up about what they want to do."

Meskipun dibuat mewek sampe sesenggukan, tapi gue nggak nyesel nontonnya. Kepolosan Bruno dan Shmuel diperankan secara apik oleh Asa Butterfield dan Jack Scanlon. Ah, seandainya saja di dunia ini nggak ada perang...

Oh iya, setelah nonton filmnya, gue jadi pengin baca bukunya juga. Jadi mari kita berburu e-book-nya! :D

Jumat, 19 September 2014

A MONTH, A BOOK PROJECT



So, this is my project.

"Sebulan cuma satu buku, Na?"

I know you're gonna ask me about that. Sebenarnya ini jadi salah satu cara gue untuk membiasakan diri membaca lagi mengingat sejak masuk kuliah, kebiasaan membaca gue jadi berangsur-angsur menurun. Dengan jadwal kuliah yang padat dan tugas yang menumpuk, rasanya tiap kali bisa punya waktu luang untuk membaca itu udah istimewa sekali. *Yah, salahkan kampus gue!*

Selama tiga tahun being a college girl, gue emang masih bisa menyisihkan duit buat jajan buku. Tapi nggak tiap bulan bisa beli kayak waktu SMA juga. Belajar prihatin, Bos! Namanya juga anak kos. Tapi yang paling menyedihkan sebenarnya bukan karena gue nggak bebas jajan buku lagi, namun lebih karena waktu membaca gue juga ikut berkurang dengan disibukkannya gue sama kegiatan kuliah. *Sok sibuk lo, Na!*

The worst point is, meskipun gue masih bisa menyalurkan hasrat gue buat beli buku, tapi buku-buku yang gue beli kemudian cuma gue tumpuk aja gitu di kamar kos. Beberapa ada yang sempat gue baca sampe selesai. But mostly, gue cuma baca beberapa bab awal kemudian end up mangkrak gitu aja di pojokan kamar. *I know I'm that pathetic*

Menyadari bahwa perlahan-lahan gue mulai memurtadkan diri dari label book worm, akhirnya di tahun 2014 ini gue bikin projek buat diri gue pribadi untuk membiasakan diri membaca lagi. So far, gue bisa lakuin. Meski otak gue dijejelin sama bejibun tugas dan materi kuliah, at least I still have time to read. And you know, bisa kembali nemuin waktu senggang untuk membaca itu sesuatu sekali!

Kalo projek ini berhasil, tahun depan gue harus memaksa diri gue untuk membaca lebih banyak buku. Meskipun semester ini gue harus berhadapan sama skripsi *God, can I just skip it?*, gue berharap masih punya waktu luang untuk membaca. Itung-itung me-refresh otak dengan cara yang mudah dan murah... :)

Let's read, guys! Karena membaca itu keren!

Rabu, 10 September 2014

Mahasiswa Tingkat Tua

Well, akhirnya gue masuk semester tujuh juga. Rasanya waktu cepat banget berlalu. Padahal kayaknya baru kemarin gue dan teman-teman seangkatan ngerasain yang namanya OSPEK dengan tugas bejibun, dibentak-bentak senior sampe muncrat, berangkat pagi dan masih harus nyari barang ini itu sampe malam. Kampret! Tapi sekarang gue udah semester tujuh aja gitu lho. Udah jadi angkatan tua aja gitu lho. Dan harus siap-siap dibikin pusing sama perkara skripsi. Aaaaakk... Gue belum siap!

Bicara soal skripsi, gue aja masih bingung ntar mau ngajuin topik dan judul apa ke Dosen Pembimbing. Belum ada ide sama sekali. Gue beneran berharap cepat dapat wangsit biar cepet pula ngerjain skripsinya. Tapi... tentunya kita semua tau dong cepat-lambatnya penyusunan skripsi bukan cuma ditentukan oleh rajin-enggaknya kita. Tapi juga faktor dosen!

Misalkan kita udah rajin dan serius banget ngerjain skripsi sampe-sampe cuma ngedekem di kamar aja selama kurun waktu itu buat ngerjain skripsi, tapi si Dosen Pembimbing ini selalu punya seribu alasan untuk nggak menyetujui tulisan kita. Minta disantet gak sih itu dosen?! Kenapa selalu aja ada dosen yang doyan menghambat kelulusan mahasiswanya? Gue heran, apa jangan-jangan si dosen ini terlalu sayang sama mahasiswanya sehingga nggak mau kalo mahasiswanya pergi meninggalkan kampus? Padahal harusnya kalo emang sayang bantulah si mahasiswa biar cepat kelar kuliahnya, bukan malah menghambat. emangnya nggak bosen dirongrong terus sama mahasiswanya buat bimbingan tiap hari?

Gue sih berharap semoga gue dapat jatah dosen pembimbing yang nggak ribet dan memudahkan jalan gue untuk meraih gelar SE. Dan gue juga berharap saat sidang skripsi maupun kompre nanti dapat penguji yang nggak doyan nanya macem-macem dan nggak pelit nilai. Gue beneran udah bosen di kampus dan pengen cepet-cepet lulus. Jadi ya doakan aja ya segalanya berjalan lancar.



Untuk sekarang sih gue masih kudu nyelesaiin masa magang gue yang kurang sebulan dan nyusun laporannya. Maaakk.. Otak gue rasanya penuh banget. Laporan magang, belum lagi ujiannya, skripsi, dan masih ada 3 makul yang kudu gue jalanin pula. Great!


Tapi bukan K namanya kalo gini aja udah ngeper. Pokonya gue kudu semangat! Ya, semangat, K! Gue pasti bisa ngelewatin semuanya. Yah asal ga bikin gue pengin jambak-jambak rambut aja nantinya. Wish me luck ya, guys! ^^