Hari ini gue baru aja kelar baca buku ini...
Interlude ini karya keenam dari Windry Ramadhina, sekaligus buku pertamanya yang gue baca. Buku ini gue dapat dari hasil pinjaman Mbak Inoer, editor di kantor tempat gue magang. Lumayan buat ngisi waktu di kantor kalo pas nggak ada kerjaan. Hehe...
Tokoh sentral dalam novel setebal 371 halaman ini adalah Hanna dan Kai. Mereka memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, namun ada persamaan di antara mereka. Mereka sama-sama memiliki kepahitan hidup yang harus dihadapi.
Hanna adalah seorang mahasiswi jurnalisme. Ringkih, berhati terlalu lembut, dan mudah menangis. Karenanya, Kai selalu meledeknya cengeng. Gadis ini memiliki masa lalu kelam yang membuatnya trauma. Karena sesuatu yang terjadi di masa lalunya ini, dia harus menjalani terapi selama kurun waktu satu tahun. Dan karena masa lalunya pula, Hanna sering dijadikan bahan gunjingan oleh teman-teman kampusnya.
Sementara Kai adalah seorang pemuda yang bisa dikatakan anti kemapanan. Gemar mabuk, tidak pernah bertahan lama berhubungan dengan perempuan, dan tidak peduli pada bidang akademis yang dia jalani meskipun selama enam semester berturut-turut selalu memperoleh IPK sempurna. Kai merupakan gitaris genius dari Second Day Charm, suatu band beraliran Jazz, yang dimotori oleh Jun. Vokalis dari band ini, Gitta, sempat menjalin hubungan dengan Kai selama beberapa saat.
Lalu bagaimana dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang ini bertemu? Well, mereka bertemu pertama kali di atap apartemen tempat Hanna indekos. Kebetulan, Gitta juga tinggal di gedung yang sama. Karena itu Kai sering berkunjung ke sana entah untuk numpang tidur di apartemen Gitta atau sekedar bermain gitar di atap bangunan delapan lantai itu.
Awalnya, Kai tertarik pada Hanna karena sikap malu-malu kucingnya. Menurut Kai, setiap perempuan itu sama. Mereka pasti akan bersikap malu-malu dan sok jual mahal di depan semua pria, tapi kemudian dengan mudahnya mau untuk diajak ke ranjang. Seperti itu pula penilaian Kai pada Hanna. Padahal dirinya sudah diingatkan Gitta bahwa Hanna sama sekali berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini Kai kencani. Namun Kai tetap saja tidak peduli dan berusaha untuk menaklukkan Hanna.
Hingga kemudian, saat Kai mengetahui kebenaran akan masa lalu Hanna, pemuda ini menyesal setengah mati karena telah memperlakukan Hanna dengan tidak baik. Dia berusaha untuk meminta maaf pada gadis itu dan ingin membuktikan bahwa tidak selamanya dia menjadi laki-laki berengsek.
Well, nggak perlu gue ceritain secara menyeluruh juga kan? Yang jelas, gue suka pake banget sama novel dengan cover cantik ini. Dari sini kita bisa belajar bahwa yang bisa menyembuhkan trauma serta ketakutan-ketakutan dalam diri kita adalah kita sendiri. Bukan orang lain. Gue suka Hanna yang meskipun masih terbayang-bayang akan masa lalunya namun perlahan-lahan dia mau keluar dari sana. Intinya, mau sebesar apapun support dan motivasi orang lain agar kita mau move on dari masa lalu, kalo kitanya sendiri aja nggak mau dan nggak bisa memotivasi diri sendiri ya kita nggak akan bisa beranjak ke mana-mana.
Oh iya, ada satu kutipan yang paling gue suka di buku ini. Kalimat yang diucapkan Miss Lorri, teraphist Hanna.
Masa lalu seperti belenggu, memang. Mengikat. Terlalu mengikat, kadang. Seperti menjadi bagian baru di diri kita. Bagian baru yang membebani. (hal 254)
And last but not least, saat membaca Interlude ini, nggak tau kenapa gue ngebayangin sosok Kai itu kayak JongHyun-nya CNBlue >.<
Dan ngomong-ngomong soal Kai, gue jadi inget sama Ares di Summer Breeze-nya Orizuka. Sama-sama tipe pemuda bengal yang sebenarnya butuh perhatian.
So, intinya buku ini bagus dan worth to read. Tapi hati-hati, kalo perasaan lo mendadak sendu dan galau, jangan salahin gue! :D








