Jumat, 10 Oktober 2014

INTERLUDE : SELALU ADA JEDA UNTUK BAHAGIA

Hari ini gue baru aja kelar baca buku ini...


Interlude ini karya keenam dari Windry Ramadhina, sekaligus buku pertamanya yang gue baca. Buku ini gue dapat dari hasil pinjaman Mbak Inoer, editor di kantor tempat gue magang. Lumayan buat ngisi waktu di kantor kalo pas nggak ada kerjaan. Hehe...

Tokoh sentral dalam  novel setebal 371 halaman ini adalah Hanna dan Kai. Mereka memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, namun ada persamaan di antara mereka. Mereka sama-sama memiliki kepahitan hidup yang harus dihadapi.

Hanna adalah seorang mahasiswi jurnalisme. Ringkih, berhati terlalu lembut, dan mudah menangis. Karenanya, Kai selalu meledeknya cengeng. Gadis ini memiliki masa lalu kelam yang membuatnya trauma. Karena sesuatu yang terjadi di masa lalunya ini, dia harus menjalani terapi selama kurun waktu satu tahun. Dan karena masa lalunya pula, Hanna sering dijadikan bahan gunjingan oleh teman-teman kampusnya.

Sementara Kai adalah seorang pemuda yang bisa dikatakan anti kemapanan. Gemar mabuk, tidak pernah bertahan lama berhubungan dengan perempuan, dan tidak peduli pada bidang akademis yang dia jalani meskipun selama enam semester berturut-turut selalu memperoleh IPK sempurna. Kai merupakan gitaris genius dari Second Day Charm, suatu band beraliran Jazz, yang dimotori oleh Jun. Vokalis dari band ini, Gitta, sempat menjalin hubungan dengan Kai selama beberapa saat.

Lalu bagaimana dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang ini bertemu? Well, mereka bertemu pertama kali di atap apartemen tempat Hanna indekos. Kebetulan, Gitta juga tinggal di gedung yang sama. Karena itu Kai sering berkunjung ke sana entah untuk numpang tidur di apartemen Gitta atau sekedar bermain gitar di atap bangunan delapan lantai itu.

Awalnya, Kai tertarik pada Hanna karena sikap malu-malu kucingnya. Menurut Kai, setiap perempuan itu sama. Mereka pasti akan bersikap malu-malu dan sok jual mahal di depan semua pria, tapi kemudian dengan mudahnya mau untuk diajak ke ranjang. Seperti itu pula penilaian Kai pada Hanna. Padahal dirinya sudah diingatkan Gitta bahwa Hanna sama sekali berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini Kai kencani. Namun Kai tetap saja tidak peduli dan berusaha untuk menaklukkan Hanna.

Hingga kemudian, saat Kai mengetahui kebenaran akan masa lalu Hanna, pemuda ini menyesal setengah mati karena telah memperlakukan Hanna dengan tidak baik. Dia berusaha untuk meminta maaf pada gadis itu dan ingin membuktikan bahwa tidak selamanya dia menjadi laki-laki berengsek.

Well, nggak perlu gue ceritain secara menyeluruh juga kan? Yang jelas, gue suka pake banget sama novel dengan cover cantik ini. Dari sini kita bisa belajar bahwa yang bisa menyembuhkan trauma serta ketakutan-ketakutan dalam diri kita adalah kita sendiri. Bukan orang lain. Gue suka Hanna yang meskipun masih terbayang-bayang akan masa lalunya namun perlahan-lahan dia mau keluar dari sana. Intinya, mau sebesar apapun support dan motivasi orang lain agar kita mau move on dari masa lalu, kalo kitanya sendiri aja nggak mau dan nggak bisa memotivasi diri sendiri ya kita nggak akan bisa beranjak ke mana-mana.

Oh iya, ada satu kutipan yang paling gue suka di buku ini. Kalimat yang diucapkan Miss Lorri, teraphist Hanna.

Masa lalu seperti belenggu, memang. Mengikat. Terlalu mengikat, kadang. Seperti menjadi bagian baru di diri kita. Bagian baru yang membebani. (hal 254)

And last but not least, saat membaca Interlude ini, nggak tau kenapa gue ngebayangin sosok Kai itu kayak JongHyun-nya CNBlue >.<
Dan ngomong-ngomong soal Kai, gue jadi inget sama Ares di Summer Breeze-nya Orizuka. Sama-sama tipe pemuda bengal yang sebenarnya butuh perhatian.

So, intinya buku ini bagus dan worth to read. Tapi hati-hati, kalo perasaan lo mendadak sendu dan galau, jangan salahin gue! :D

Selasa, 07 Oktober 2014

AKHIRNYA DITENGOKIN EMAK

Pagi ini gue terbangun lebih pagi dari biasanya, pukul 5 pagi. Catet ya, terbangun. That means, sebenernya itu belum waktunya gue bangun.

Nah, terus kenapa, Na?

Pertama, gegara mimpi indah gue bertemu dengan Miles Teller terpaksa harus gue sudahi karena dering ponsel gue berhasil mengusir si Mas Miles dari mimpi. Dan kedua, lo tau siapa yang nelepon gue subuh-subuh buta? Dosen Pembimbing Lapangan gue! Jelas kaget banget dong gue. Ini ibu ngapain lagi pagi-pagi bener nelepon? Kangen gue kah? Oh, tapi itu jelas nggak mungkin. Karena itu gue cepat-cepat menepis pikiran kepedean gue.

Terus ngapain dong si Ibu nelepon gue jam segitu? Ternyata oh ternyata... itu karena beliaunya hari ini mau nengokin gue di kantor magang dan minta alamat lengkap kantor berikut ancer-ancernya. Mendengar kabar tersebut, seketika itu juga gue langsung melek. Men, akhirnya gue ditengokin juga...

Yup, kampus gue ini emang paling rajin. Tiap anak magang pasti bakal ditengokin sekali sama dosen pembimbing masing-masing. Padahal anak-anak dari kampus lain yang magang sekantor bareng gue nggak ada tuh acara tengok-tengokan segala. Supersekali ya kampus tercinta gue itu.

Begitu telepon ditutup, langsung deg-degan aja dong gue. Duh, ini kira-kira gue bakal dikepoin tentang apa? Karena itu gue nggak bisa menyambung mimpi buat ketemu sama Miles Teller lagi. Huwaaa...

Si Ibu Pembimbing ini saat awal gue mau magang bilang bahwa beliau akan nengokin kami,  anak bimbingannya, pada bulan September. Dan selama bulan itu, udah H2C aja dong gue... Eh, tapi setelah ditungguin dan bulan Septembernya lewat, si Ibu nggak datang-datang juga. Duh, apa si Ibu lupa kalo ada anaknya yang magang di Jogja? Berasa anak tiri yang tersisihkan banget perasaan gue waktu itu. Tapi kemudian ada temen gue yang curhat kalo dosen pembimbing mereka juga belum nengokin. Ah, langsung lega deh. Semoga emang bener beliaunya belum ada waktu.

Sebenernya sih gue nggak terlalu berharap ditengokin juga. Tapi kalo nggak ditengokin, terus form penilaian buat perusahaan untuk menilai gue siapa yang nganterin coba? Masa iya nanti gue kudu balik ke Semarang dulu buat ngambil form-nya sendiri -___-"

Anyway, akhirnya sekitar pukul 9 lebih dikit tadi dosen gue sampai juga di kantor ijo tempat gue magang. Gue sih berlagak sok santai. Padahal jantung gue udah kayak mau meledak aja tadi. Mampus, bentar lagi sesi interogasi nih.

Tapi untungnya sesi interogasinya nggak seserem yang gue bayangin. Pak Pimred di tempat gue magang minta gue untuk ikut duduk bareng mereka. Dan akhirnya dimulailah sesi ngobrol-ngobrol. Nggak lama kok. Paling cuma sekitar setengah jam. Setelah itu, si Ibu pamit karena masih harus nengokin "anaknya" yang lain yang ada di Magelang.

Oh iya, sebelum pamit, si Ibu Pembimbing nggak lupa nyerahin form penilaian buat gue ke Pimred kantor tempat gue magang dan ngasih kayak semacam bingkisan gitu *buat saya mana, Bu?* Dan karena gue magang di kantor penerbit, Pak Pimred pun "mengoleh-olehi" dosen gue dengan setumpuk buku. Ini nggak ada yang mau ngasih gue bingkisan juga?

Dadah, Ibu...
Terimakasih sudah menegok mahasiswimu yg unyu..

Well, sepulangnya beliau dari sini, gue baru nyadar bahwa minggu depan adalah minggu terakhir gue magang. Ah, akhirnya balik lagi ke kampus. Senangnya,,, *gue nggak pernah merasa sesenang ini buat balik kampus*

Meskipun akhirnya gue kudu berkutat dengan laporan magang, gue seneng karena sebentar lagi gue bakal ketemu temen-temen. Gue kangen bergosip ria, ngerumpi di kelas, dan oh... gue kan punya junior baru. Itu artinya gue bisa ngecengin berondong-berondong cucok... Mhuahaha...

Gue kangen kuliah... Iyah, kangen...

Senin, 06 Oktober 2014

THINGS YOUR ENGLISH BOOKS DON'T TELL YOU

Judul              : Things Your English Books Don’t Tell You
Penulis            : @EnglishTips4U
Penerbit         : PandaMedia
Tahun Terbit  : 2014
Cetakan          : Kedua
Tebal              : 330 hlm

ISBN              : 979-780-733-9


Kali ini gue akan coba me-review buku non fiksi yang baru aja selesai gue baca. *Tumben amat lo, Na.*

Jujur aja gue tertarik sama buku ini karena cover-nya yang unyu dengan warna pastel dan font kurusnya. Apalagi buku ini ditulis oleh para admin dari suatu akun di Twitter yang fokus pada pembelajaran bahasa Inggris. Masih jarang banget kan buku-buku non fiksi yang berhubungan dengan bahasa yang disusun oleh para admin dari suatu akun di media sosial. Karena itu gue penasaran sama isi buku ini.

Things Your English Books Don’t Tell You merupakan sebuah buku pembelajaran bahasa Inggris yang ditulis oleh para admin dari akun @EnglishTips4U. Dengan mengusung tagline “jago bahasa Inggris, tepat, cepat, dan nggak pakai ribet” memang cocok dengan konten yang disajikan dalam buku ini.

Jika buku-buku bahasa Inggris lain berfokus pada satu tema atau paling banyak tiga tema yang dibahas dalam suatu judul (misal : conversation, vocabulary, dan grammar), maka buku ini membahas hampir keseluruhan tema yang ada dalam bahasa Inggris. Pembelajaran sederhana mengenai grammar, vocabulary, idioms, hingga pengetahuan singkat mengenai TOEFL dan IELTS terangkum dalam buku setebal 330 halaman ini.

Selain topik-topik di atas, buku ini juga membahas mengenai hal-hal yang dalam buku bahasa Inggris lain mungkin belum pernah atau jarang dibahas seperti kata slang dari Amerika, Inggris, dan Australia, slur words, blending words, abbreviations, hingga kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sepertinya tidak ada dalam bahasa Inggris (misalnya sayur asem yang dalam bahasa Inggris dideskripsikan menjadi “clear soup made of tamarind, sweet corns, peanuts, and other chopped vegetables, with sour and fresh taste”).

Sebagai selingan, buku ini juga menyajikan topik-topik ringan seperti quotes, peribahasa, dan pada halaman-halaman akhir terdapat pertanyaan teka-teki yang jawabannya dapat dilihat di web penulis, http://englishtips4u.com.

Untuk semakin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris pembaca buku ini, terdapat pula latihan soal ringan yang jawabannya pun dapat diakses di web di atas.

Konten dengan beragam tema yang berhubungan dengan bahasa Inggris dan disajikan dengan bahasa ringan serta khas anak muda merupakan kelebihan dari buku ini.  Cover­-nya yang menarik pun tentu menjadi nilai tambah. Selain itu, @EnglishTips4U telah memiliki follower di atas 50K yang tentunya menjadi target pembaca utama sehingga tidak heran dalam waktu belum ada satu tahun saja buku ini telah memasuki cetakan kedua.