So, hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 24 Agustus, gue iseng jalan ke Gramedia Sudirman Jogja bareng salah seorang temen gue. Nah kebetulan di sana buku-buku dari Agromedia Group sedang ter-display dengan cantik dan unik.
Ada promo pula kalo kita beli dua buku terbitan Gagasmedia, Bukune, atau Entermedia bakal dapat hadiah berupa goodiebag atau notebook superkece. Jadilah gue termotivasi untuk milih-milih buku dari ketiga penerbit itu, meski kemudian saat selesai bayar di kasir, gue gak dapat hadiah apa-apa. Ah, gue dikibulin! atau jangan-jangan si Mbak-mbak kasirnya yang lupa? Ini asli kampret! Padahal waktu itu budget gue beneran pas-pasan. Tapi ya sudahlah... gue gak pernah nyesel kalo harus ngebuang uang demi buku. Yeah, I'm totally a bookworm and a book hoarder! Hohoho...
Ada promo pula kalo kita beli dua buku terbitan Gagasmedia, Bukune, atau Entermedia bakal dapat hadiah berupa goodiebag atau notebook superkece. Jadilah gue termotivasi untuk milih-milih buku dari ketiga penerbit itu, meski kemudian saat selesai bayar di kasir, gue gak dapat hadiah apa-apa. Ah, gue dikibulin! atau jangan-jangan si Mbak-mbak kasirnya yang lupa? Ini asli kampret! Padahal waktu itu budget gue beneran pas-pasan. Tapi ya sudahlah... gue gak pernah nyesel kalo harus ngebuang uang demi buku. Yeah, I'm totally a bookworm and a book hoarder! Hohoho...
Terus kemarin buku apa aja yang akhirnya gue beli? Ini dia penampakannya...
Dua-duanya sama-sama ijo ya? Of course itu gegara gue suka ijo. Eh, engga juga ding. Untuk Notasi sih emang udah jadi inceran pertama gue. Honestly, gue udah pernah baca buku ini dari kapan tau. Cuma ya waktu itu bacanya numpang di Gramedia. Dasar mental anak kos! Dan berhubung gue orangnya posesif dan seperti yang gue bilang tadi bahwa gue adalah seorang book hoarder, jadi kurang lengkap rasanya kalo gue belum memiliki buku yang pernah gue baca.
Notasi ini mengambil setting era '98 dan bertempat di Jogja. Seperti biasa, Morra Quatro selalu bisa menghadirkan sosok lelaki yang gak cuma menarik secara fisik, tapi juga otak. Tokoh sentral dari novel ini adalah Nalia, si Mahasiswi jurusan Kedokteran Gigi dan Giftan Mariano Alatas atau akrab disapa Nino, si Mahasiswa Teknik Elektro. Keduanya berasal dari kampus yang sama, UGM.
Pertemuan mereka bermula dari Nalia yang saat itu datang ke Fakultas Teknik untuk meminta bantuan publikasi atas event yang akan diselenggarakan oleh BEM fakultasnya pada anak Teknik Elektro yang saat itu sudah punya pemancar radio sendiri, Jawara FM namanya. Jawara FM ini kelak akan menjadi cikal bakal radio yang sekarang dikenal dengan nama Swaragama FM.
Persaingan antara Fakultas Kedokteran dan Teknik sudah terjadi sekian lama. Apalagi ditambah dengan dua orang dari masing-masing fakultas, Tengku dan Farel, mencalonkan diri menjadi Presiden BEM universitas. Namun meskipun begitu, ketegangan antarfakultas ini tidak menghalangi kedekatan Nalia dan Nino.
Novel ini bercerita tentang cinta yang tak sempat terucapkan yang dibumbui dengan peristiwa '98 yang saat itu bahkan hingga kini ramai diperbincangkan. Nino berjanji untuk mengajak Nalia mendaki hingga puncak merapi. Nanti... saat segalanya telah berakhir. Entah apa yang berakhir, Nalia tidak pernah tau. Karena hal yang terjadi kemudian adalah Nino menghilang. Meskipun si Pria Berotak Kiri ini masih memberi kabar kepada gadisnya melalui surat yang tanpa tercantum alamat di tiap amplopnya.
Hingga kemudian Nalia menyadari bahwa tidak mungkin dia akan terus-menerus menunggu Nino. Dan pada suatu ketika, Nalia dipertemukan dengan sosok lain, Faris, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Namun meski Faris telah mengisi hari-harinya, ternyata ingatan Nalia akan Nino belum luntur. Dia masih mampu mengingat tiap detail kejadian yang pernah dia lalui bersama Nino.
Meski diceritakan dengan alur maju-mundur, tapi novel ini masih nikmat untuk diikuti. Dan karena hal itu pula, novel ini masuk ke dalam buy list gue. Gue selalu suka sama tulisan Morra Quatro. Dia mampu mendeskripsikan secara detail mengenai hal-hal yang berkaitan dengan setting novelnya. Selain itu, tiap kali membaca buku karangan Mbak yang satu ini, kita gak cuma disuguhi oleh cerita romance. Hal-hal ilmiah yang berkaitan dengan bidang Sains selalu tersaji dan mampu dikemas secara menarik sehingga membuat gue yang anti sama pelajaran Fisika waktu jaman-jaman sekolah jadi kangen untuk mempelajari hal-hal itu. Pokoknya gak akan nyesel lah untuk baca novel dengan tebal 290 halaman ini. A must read!
Notasi ini mengambil setting era '98 dan bertempat di Jogja. Seperti biasa, Morra Quatro selalu bisa menghadirkan sosok lelaki yang gak cuma menarik secara fisik, tapi juga otak. Tokoh sentral dari novel ini adalah Nalia, si Mahasiswi jurusan Kedokteran Gigi dan Giftan Mariano Alatas atau akrab disapa Nino, si Mahasiswa Teknik Elektro. Keduanya berasal dari kampus yang sama, UGM.
Pertemuan mereka bermula dari Nalia yang saat itu datang ke Fakultas Teknik untuk meminta bantuan publikasi atas event yang akan diselenggarakan oleh BEM fakultasnya pada anak Teknik Elektro yang saat itu sudah punya pemancar radio sendiri, Jawara FM namanya. Jawara FM ini kelak akan menjadi cikal bakal radio yang sekarang dikenal dengan nama Swaragama FM.
Persaingan antara Fakultas Kedokteran dan Teknik sudah terjadi sekian lama. Apalagi ditambah dengan dua orang dari masing-masing fakultas, Tengku dan Farel, mencalonkan diri menjadi Presiden BEM universitas. Namun meskipun begitu, ketegangan antarfakultas ini tidak menghalangi kedekatan Nalia dan Nino.
Novel ini bercerita tentang cinta yang tak sempat terucapkan yang dibumbui dengan peristiwa '98 yang saat itu bahkan hingga kini ramai diperbincangkan. Nino berjanji untuk mengajak Nalia mendaki hingga puncak merapi. Nanti... saat segalanya telah berakhir. Entah apa yang berakhir, Nalia tidak pernah tau. Karena hal yang terjadi kemudian adalah Nino menghilang. Meskipun si Pria Berotak Kiri ini masih memberi kabar kepada gadisnya melalui surat yang tanpa tercantum alamat di tiap amplopnya.
Hingga kemudian Nalia menyadari bahwa tidak mungkin dia akan terus-menerus menunggu Nino. Dan pada suatu ketika, Nalia dipertemukan dengan sosok lain, Faris, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Namun meski Faris telah mengisi hari-harinya, ternyata ingatan Nalia akan Nino belum luntur. Dia masih mampu mengingat tiap detail kejadian yang pernah dia lalui bersama Nino.
Meski diceritakan dengan alur maju-mundur, tapi novel ini masih nikmat untuk diikuti. Dan karena hal itu pula, novel ini masuk ke dalam buy list gue. Gue selalu suka sama tulisan Morra Quatro. Dia mampu mendeskripsikan secara detail mengenai hal-hal yang berkaitan dengan setting novelnya. Selain itu, tiap kali membaca buku karangan Mbak yang satu ini, kita gak cuma disuguhi oleh cerita romance. Hal-hal ilmiah yang berkaitan dengan bidang Sains selalu tersaji dan mampu dikemas secara menarik sehingga membuat gue yang anti sama pelajaran Fisika waktu jaman-jaman sekolah jadi kangen untuk mempelajari hal-hal itu. Pokoknya gak akan nyesel lah untuk baca novel dengan tebal 290 halaman ini. A must read!

